Selasa, 19 April 2011

Budaya Suap dan Harga Diri Kita

Budaya suap sudah tertanam dalam di masyarakat kita. Baru-baru ini lolosnya Gayus juga merupakan tanda jelas, bahwa begitu mudah para penegak hukum di Indonesia disuap. Kepercayaan publik runtuh. Kredibilitas para penegak hukum, dan juga lembaga publik lainnya, semakin hari semakin rendah di mata masyarakat. (Kompas, 19 November 2010)
Akar dari merebaknya budaya suap adalah rendahnya harga diri para aparat publik. Menyuap tidak hanya melancarkan birokrasi secara ilegal, tetapi juga membeli harga diri aparat yang bertanggung jawab. Aparat publik itu pada umumnya mudah sekali dibeli, sehingga kita patut bertanya, di mana harga diri mereka? Bangsa yang aparatus publiknya tidak memiliki harga diri, sehingga mudah sekali disuap dan melakukan korupsi, tinggal menunggu waktu saja untuk keropos dan kemudian hancur perlahan dari dalam.
Pentingnya Harga Diri
Harga diri bukan hanya kebanggaan semu, tetapi terkait erat dengan esensi manusia. Esensi adalah inti dari manusia yang membedakannya secara tegas dari hewan dan tumbuhan. Esensi inilah yang membuat manusia unik sekaligus istimewa. Esensi inilah yang membuat kita berharga dan bermakna.
Di dalam filsafat manusia, esensi tersebut terkait dengan jiwa manusia. Dengan kata lain esensi dari manusia adalah jiwanya. Esensi ini bukan sesuatu yang statis, namun secara dinamis membantu manusia membuat keputusan di dalam hidupnya. Tanpa keberadaan jiwa manusia hanyalah seonggok daging, tulang, dan darah yang tanpa arti.
Di Indonesia harga diri diperjualbelikan. Aparat pemegang amanat publik justru menjadi pengobral harga diri yang paling radikal. Aparat publik kehilangan esensi mereka sebagai manusia. Mereka kehilangan jiwanya. Uang menggantikan jiwa itu. Maka yang tampil bukanlah manusia, melainkan mesin-mesin yang rakus uang.
Adanya jiwa menandakan dengan tegas, bahwa manusia itu memiliki martabat. Artinya manusia itu berharga pada dirinya sendiri, lepas dari kemampuan, suku, ras, ataupun agamanya. Orang cacat tetap berharga, karena ia memiliki martabat sebagai manusia. Martabat itu sesuatu yang diterima manusia, dan dipertahankan melalui keputusan-keputusan hidupnya.
Di Indonesia mayoritas aparat publik tidak memiliki martabat. Melalui keputusan-keputusan yang mereka ambil, seperti menerima suap dan korupsi, mereka perlahan tapi pasti mengikis martabatnya, baik sebagai abdi masyarakat, maupun sebagai manusia secara luas. Mereka kehilangan harga diri, jiwa, dan martabatnya sebagai manusia, persis pada saat mereka menerima suap.
Jika itu yang terjadi, maka aparat publik tidak ubahnya seperti hewan, tumbuhan, dan bahkan benda. Hewan tidak memiliki martabat, maka ia akan berbuat apapun untuk memperoleh kenikmatan dan kesenangan. Benda tidak memiliki keduanya. Benda tidak memiliki jiwa, harga diri, maupun martabat.
Di dalam filsafat klasik ditegaskan, hewan memiliki kemampuan untuk bergerak dan merasa, tetapi tidak untuk berpikir abstrak, seperti untuk mempertimbangkan apa yang baik dan buruk, ataupun untuk mempertahankan harga diri. Manusia yang menerima suap otomatis jatuh ke dalam level ini, karena ia kehilangan kemampuan abstraknya untuk hidup bermoral, dan pada akhirnya kehilangan harga dirinya, tepat pada saat ia menerima suap.
Dilema
Para penerima suap tidak ubahnya seperti benda-benda tanpa pikiran, jiwa, dan harga diri. Bangsa yang dikemudikan oleh benda-benda tanpa pikiran, jiwa, dan harga diri perlahan tapi pasti akan kehilangan kepercayaannya dari masyarakat. Padahal kepercayaan adalah esensi dari sebuah masyarakat. Tanpa kepercayaan tidak akan ada masyarakat.
Tulisan ini sebenarnya terjebak pada dilema. Jika benar para aparat publik tidak memiliki jiwa, harga diri, dan martabat, karena mereka begitu mudah dibeli, maka tulisan ini pun tidak akan berguna, karena tidak ada gunanya berbicara tentang harga diri pada orang yang tidak punya harga diri! Namun apakah sungguh di dalam hati mereka tidak ada lagi jiwa dan harga diri?
Meminjam argumen Aristoteles saya berpendapat, bahwa martabat itu ada, namun sebagai potensi yang belum terwujud di dalam diri para aparatur publik Indonesia. Sistem pendidikan dan kultur masyarakat yang ada gagal untuk membangun harga diri yang sebenarnya sudah selalu tertanam di dalam benak.
Akibatnya yang tercipta adalah manusia-manusia tanpa harga diri yang mudah dibeli. Gagalnya harga diri menjadi kenyataan, dan hanya berhenti sebagai potensi, adalah masalah multidimensional yang terkait erat dengan kultur permisif masyarakat, maupun cacatnya sistem pendidikan nasional kita.
Di akhir tulisan saya hanya ingin mengatakan; manusia itu mahluk yang luhur. Setiap orang memiliki harga diri. Setiap orang memiliki jiwa, dan setiap orang lahir dengan martabat yang tertanam di dalam dirinya masing-masing. Jangan tukar itu dengan beberapa potong rupiah yang akan lenyap ditelan sukacita semu.***

MISTERI INTEGRITAS DIRI

Ada yang unik di dalam diri manusia, yakni kemampuannya untuk bertahan memegang prinsip di tengah terjangan badai kehidupan. Ia bertahan walau terus dalam tegangan. Ia berpegang teguh walaupun terus diguncang krisis harapan. Bahkan ia rela mati, demi suatu keyakinan.
Inilah yang kiranya membuat para pejuang kemerdekaan Indonesia bertahan di tengah badai peluru tentara kolonial. Inilah yang membuat para religius bertahan di tengah dunia yang semakin banal. Inilah yang membuat para martir agama tetap yakin tak tergoyahkan. Dan ini juga yang membuat orang tua membanting tulang memberikan anaknya kehidupan.
Energi di balik itu semua adalah integritas diri.
Integritas
Integritas adalah sikap batin yang kokoh memegang prinsip di tengah situasi sesulit apapun. Integritas adalah keyakinan tak tergoyahkan. Integritas lahir dari permenungan mendalam pada beragam peristiwa kehidupan. Integritas berkembang di dalam benturan kenyataan.
Di Indonesia sekarang ini sulit sekali mencari orang yang hidup dengan integritas. Prinsip hidup dijual untuk memperoleh rupiah dengan culas. Orang tidak hanya menjual barang ataupun pelayanan, tetapi juga diri dan spiritualitasnya. Ini terjadi mulai dari institusi negara, sampai institusi pendidikan. Integritas semakin langka di tengah dunia yang kian hari kian tanpa harapan.
Pembangunan bangsa dimulai dengan pembangunan mentalitas individu. Tanpa itu sistem dan birokrasi tak lebih dari simbol-simbol semu. Pusat dari pembangunan mentalitas adalah pembangunan integritas. Semua itu hanya dapat dijalankan dengan pengkondisian lahirnya manusia-manusia penuh integritas.
Konflik Batin
Hidup yang penuh dengan integritas akan seringkali berhadapan dengan dilema. Apakah orang akan berpegang pada prinsip, ketika prinsip itu mungkin saja akan membunuh diri dan keluarganya? Ketika prinsip itu mungkin saja mengorbankan mata pencahariannya? Ketika prinsip itu bisa dengan mudah diganti dengan keuntungan material nan memikat mata?
Situasi semacam itu mencipkan konflik batin. Tak pelak hati tersiksa berhadapan dengan tekanan sistem. Namun integritas mengandung misteri, yakni ia tak mati ditekan situasi. Di dalam dilema dan konflik, ia justru semakin terasah dan teruji.
Di Indonesia orang tak tahan dengan dilema diri. Situasi menekan dan orang langsung pergi menyelamatkan diri. Konflik batin adalah situasi yang menyakitkan, maka orang meninggalkannya. Tanpa konflik batin dan upaya untuk memaknainya, orang akan hanyut di sungai-sungai kehidupan, dan integritas akan semakin jauh dari dirinya.
Yang tercipta kemudian adalah masyarakat penuh warga culas. Lahirlah koruptor waktu, uang, dan bahkan penipu dengan wajah memelas. Masyarakat yang warganya takut berkonflik dengan dirinya sendiri melahirkan para penjahat yang tak punya hati nurani. Mereka menghisap keberadaban masyarakat, tanpa pernah berpikir untuk berhenti.
Bukan Fundamentalisme
Perlu juga disadari bahwa integritas berbeda dengan sikap keras kepala. Integritas adalah paradoks yang berakar pada hidup yang bijaksana. Di satu sisi keteguhan prinsip tetap menyala. Namun di sisi lain fleksibilitas dalam penerapan yang berakar pada konteks tetap ada.
Maka integritas juga berbeda dengan sikap mental fundamentalis. Sikap fundamentalis lahir dari hidup yang tak dikaji secara mendalam, dan secara perlahan membuat hati nurani terkikis. Sikap fundamentalis tak mengenal fleksibilitas dan konteks dalam penerapan. Sementara mental integritas justru memberi ruang cukup besar bagi kebebasan, namun dalam rambu-rambu prinsip yang tak tergoyahkan.
Di Indonesia orang tidak memahami pembedaan yang tipis ini. Integritas disamakan dengan sikap keras kepala dan bangga diri. Integritas disamakan dengan sikap tak berpikir dalam menerapkan suatu ajaran. Yang tercipta kemudian adalah masyarakat keras kepala, irasional, dan anti perubahan. Ingatlah bahwa integritas berbeda dengan kebebalan.
Maka pembedaan antara integritas, sikap keras kepala, dan mental fundamentalis perlu untuk dipahami dan dihayati . Jika tidak masyarakat akan terjebak pada lingkaran kebebalan. Kebebalan akan membuat masyarakat tak bisa membaca gerak jaman. Ia pun akan ditinggalkan oleh kereta kemajuan.
Otonom dan Otentik
Orang yang hidup dengan integritas juga memiliki otonomi dan otentisitas. Prasyarat dari kedua hal ini adalah kebebasan. Otonomi adalah kemampuan diri untuk menentukan apa yang baik dan buruk seturut keadaan. Sementara otentisitas adalah kemampuan untuk mengenali diri secara penuh, dan hidup mengikuti panggilan hati yang tak terkatakan.
Orang yang memiliki integritas memiliki otonomi untuk menentukan secara mandiri apa yang baik dan benar untuk dilakukan. Orang yang memiliki integritas paham akan dorongan-dorongan dirinya, baik yang terkatakan maupun yang tak terkatakan. Ia hidup mengikuti panggilan hatinya. Di dalam proses itu, ia memberikan kontribusi nyata pada masyarakat yang membutuhkannya.
Di Indonesia otonomi adalah sesuatu yang langka. Orang sulit untuk berpikir mandiri tentang apa yang baik dan benar untuk dilakukannya. Orang diminta untuk mengikuti aturan dan norma yang ada tanpa tanya. Tanpa otonomi mental integritas tidak akan pernah lahir ke dunia. Orang hanya akan menjadi robot ataupun kambing yang tak memiliki mimpi bagi diri dan masyarakatnya.
Di Indonesia orang juga tak mengenal dirinya sendiri. Ia mengenyam pendidikan dan bekerja sesuai tuntutan situasi. Ia tidak punya mimpi. Tak heran Indonesia minim inovasi yang berarti. Tidak hanya itu inovasi justru ditakuti, maka kemudian dipaksa berhenti.
Untuk membangun integritas orang perlu juga berbarengan membangun otonomi dan otentisitas diri. Orang perlu menggunakan pikiran untuk menentukan apa yang terbaik untuk dilakukan berhadapan dengan situasi. Orang perlu menggunakan keseluruhan diri untuk mengenali panggilan hidupnya, dan mengikutinya tanpa ragu. Hanya dengan begitu integritas yang sejati bisa tercipta, dan orang bisa bahagia menjalani hidup yang tidak semu.
Budaya Unggul
Budaya unggul dalam organisasi juga membutuhkan sikap integritas dari individu-individu yang terkait di dalamnya. Integritas lahir dari kebebasan yang dewasa. Kedua hal itu menghasilkan inovasi yang bermakna untuk organisasi dan masyarakat. Organisasi tidak hanya menyediakan mata pencaharian bagi anggotanya, tetapi juga makna yang meningkatkan kualitas hidupnya.
Di Indonesia budaya unggul di dalam organisasi nyaris tidak tercipta. Banyak organisasi bagaikan hidup segan mati tak mau. Semuanya sekedar rutinitas dan kewajiban, tanpa roh yang menjiwai. Inovasi mati dan bahkan justru dianggap sebagai alergi yang harus dihindari.
Ini semua terjadi karena individu di dalam organisasi hidup tanpa integritas. Mereka memiliki mental ikut arus. Mereka tidak mengenali dan mengembangkan kemampuan diri. Untuk mencegah pengeroposan organisasi lebih jauh, maka prinsip utama dan pertama pengembangan di dalam organisasi adalah penciptaan dan pelestarian integritas diri.
Bagaimana?
Esensi dari integritas adalah otonomi dan otentisitas. Keduanya hanya terbangun di dalam iklim kebebasan. Di titik ini kebebasan tidak berarti kebebasan tanpa aturan. Kebebasan dalam konteks integritas adalah kebebasan yang dibalut dengan prinsip-prinsip hidup yang tak tergoyahkan.
Maka yang perlu diciptakan adalah iklim kebebasan berpikir dan berekspresi yang dibalut dengan prinsip-prinsip yang mendalam. Iklim perbedaan sudut pandang harus diciptakan, dan disertai dengan argumentasi rasional yang mendasari masing-masing perbedaan. Kebebasan berekspresi harus ditonjolkan dalam bentuk kemerdekaan berpendapat, dan keberanian menampilkan citra diri seutuhnya. Hanya di dalam iklim semacam itulah integritas bisa tumbuh dan berkembang.
Di Indonesia orang takut dengan kebebasan. Kebebasan disamakan begitu saja dengan pemberontakan. Kaum religius takut umatnya akan menjadi ragu. Kaum feodal pendidikan takut muridnya tidak lagi patuh. Keduanya adalah kesalahan berpikir soal kebebasan.
Yang perlu disadari adalah, bahwa kebebasan itu butuh waktu untuk menciptakan tradisinya. Kebebasan perlu kesabaran untuk membuktikan keunggulannya. Kebebasan itu kemudian diterjemahkan di dalam kebijakan yang manusiawi. Itulah iklim yang bisa melahirkan integritas diri.
Integritas bukan buih moral tanpa makna. Integritas adalah soal eksistensi kita sebagai manusia dan bangsa. Meremehkannya sama dengan menggiring kita perlahan menuju kehancuran. Integritas adalah lembar tipis yang memisahkan kita dari ketiadaan.***