Minggu, 10 April 2011


PERGERAKAN MAHASISWA DALAM MENUJU SUATU PERUBAHAN

Masalah
Akar Kegagalan reformasi sepantasnya mendapat perhatian serius dan analisis yang mendalam. Pertanyaan yang patut diajukan, mengapa gerakan kaum intelektual muda seperti mahasiswa ini seolah belum menemukan pola baku dalam melawan segala tirani dan ketidakadilan para penguasa, yang semakin hari semakin tidak lagi memihak kepada rakyat? Ada tiga hal pokok penyebab gagalnya gerakan mahasiswa. Pertama, tidak menyentuh akar permasalahan, sehingga kurang tepatnya perumusan solusi krisis bangsa. Para aktivis gerakan perubahan, termasuk gerakan mahasiswa sebagai garda terdepan, menilai akar masalah dari segala krisis bangsa adalah kesalahan dari aparat pemerintah, antara lain penegakan hukum yang lemah, budaya KKN dan belum berjalannya demokratisasi. Sehingga mereka menyerukan tegakkan supremasi hukum, bersihkan aparat pemerintah dari KKN dan gencarkan demokratisasi. Begitu juga dalam permasalahan BHMN/BHP, mereka hanya sebatas berteriak-teriak ?tolak BHMN/BHP. permasalahan kebobrokan ekonomi dengan seruan turunkan harga kebutuhan pokok. Jadi jelaslah mengapa perjuangan tidak kunjung membuahkan hasil yang baik, karena ide-ide itu masih umum dan tidak menyentuh akar permasalahan yang ada. Dari sini, dimunculkan solusi dengan enam visi reformasi dalam menuntaskan masalah tadi. Jika ditelusuri lebih mendalam, hal tadi bukanlah rumusan yang tepat sebagai solusi. Kedua, ide yang tidak jelas. Pengadopsian sebuah ide atau pemikiran gerakan menjadi unsur yang penting bagi gerakan mahasiswa sebagai nilai perjuangan nantinya. Ide atau pemikiran itu haruslah ide dan pemikiran yang benar, jelas dan terukur. Dalam artian telah melalui proses studi kelayakan dan disimpulkan apakah baik untuk diadopsi. Ternyata prinsip ini dilupakan oleh gerakan mahasiswa selama ini. Lemahnya daya pikir politis mahasiswa juga membawa arah perjuangan mereka tidak menentu. Berbagai aksi yang yang dilakukan hanya sekedar respon yang spontanitas (reaksioner) tentang berbagai isu yang sedang populer di masyarakat. Dan tidak heran jika kemudian gerakan mahasiswa ini sering dimanfaatkan sebagai alat permainan isu dan manajemen konflik oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Ketiga, tidak ideologis. Sebenarnya mahasiswa selama ini belum memahami betul akan pentingnya sebuah gerakan yang berlandaskan ideologi, sehingga mereka terbiasa akan gerakan-gerakan yang ada saat ini, bahkan mereka mengikuti format-format gerakan tersebut dalam aktivitasnya meskipun mereka tidak merasakan kepuasan sebab gerakan tersebut tidak mampu berkarya dalam menyelesaikan masalah. Mereka yang mengusung gerakan yang tidak ideologis, akan terombang ambing ketika ditengah perjuangannya berbenturan dengan berbagai masalah yang sebelumnya tidak pernah dijumpai. Berbenturan dengan ketidakpercayaan diri dalam menghadapi realitas yang ada. ataupun berbenturan dengan mayoritas suara yang menyesatkan. Sehingga dapat kita saksikan, ide-ide yang diusung oleh sebagian gerakan mahasiswa lebih bersifat megikuti tren yang ada, ketika diteriakkan reformasi sebagai solusi bangsa ini maka mahasiswapun meneriakkan hal yang sama. Begitu juga ketika diberikan konsep demokrasi sebagai sebuah system yang adil maka mahasiswa pun ikut memperjuangkannya, tanpa mencermati apakah konsep-konsep yang ditawarkan tersebut layak untuk diperjuangkan. Akibatnya arah perjuangan merekapun tidak menentu.Hal ini sangatlah berbeda dengan Gerakan yang berbasis sebuah ideology. mereka akan menemukan arah perjuangan yang jelas, sebab idelogi tersebut akan menuntun mereka dalam melahirkan berbagai solusi atas persoalan yang ada. Rekonstruksi Paradigma Gerakan Ketika masyarakat sadar bahwa ada suatu kondisi yang lebih baik dari semula maka keinginan untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik tersebut menjadi suatau keniscayaan. Berbagai cara dilakukan untuk mewujudkan perubahan tersebut.

Solusi
Pada paparan sebelumnya telah dibahas tentang berbagai idealisme dalam sebuah gerakan mahasiswa beserta komponen mahasiswa di dalamnya. Dengan rujukan idealisme tersebut, sebuah gerakan mahasiswa dapat diketahui realitasnya apakah sebuah gerakan itu sesuai dengan apa yang menjadi landasan ideologinya atau hanya menjadi sebuah alat dari pihak-pihak tertentu dalam memenuhi kepentingan individu dan golongan. Terkadang sebuah idealitas harus teracuhkan dalam kerja-kerja nyata di lapangan.
Dalam aplikasi dan solusi yang ditawarkan secara tak sadar telah keluar dari konsep dasar sebuah pergerakan mahasiswa. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, bahkan sudah terbukti bahwa gerakan mahasiswa akhirnya menjadi sebuah mitos sejarah belaka yang diakibatkan karena berbagai kepentingan dan keinginan yang melenakan dari pihak-pihak yang turut andil dalam pergerakannya. Zaman yang berubah cepat, kaum muda Islam di Indonesia sebagai yang terbesar, diminta untuk mengambil tindakan-tindakan yang bertendensi ke masa yang akan datang. Setiap kita terutama pemuda an mahasiswa diminta untuk melibatkan diri dalam suatu kelompok entitas, apakah kita sebagai entitas bangsa atau sebagai entitas kesadaran. Kesemuanya itu menandakan adanya suatu persimpangan yang rumit dan juga suatu pertaruhan yang melibatkan tidak hanya satu generasi saja dari bangsa ini, akan tetapi juga melibatkan mereka yang belum lahir dalam kehidupan bangsa ini. Perbaikan ini memerlukan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sehingga diperlukan keberanian dan sikap tegas dalam mengambil keputusan untuk memulai memasuki babak baru perbaikan. Gerakan Mahasiswa Antara Idealitas dan Realitas



Kesimpulan
Keberadaan gerakan mahasiswa dalam konstelasi sosial politik di negeri ini tak bisa dipandang sebelah mata. Diakui atau tidak, keberadaan mereka menjadi salah satu kekuatan ekstraparlemen yang selalu dipertimbangkan oleh berbagai kelompok kepentingan (interest group) terutama pengambil kebijakan, yakni negara.

Gerakan mahasiswa baik sebelum ataupun pasca tahun 1998 bagi saya tidak bisa dipisahkan dari ruang dan waktu dimana entitas mahasiswa itu hadir. Karena itu gerakan mahasiswa selalu mengalami pasang surut dalam perkembangannya. Gerakan mahasiswa Indonesia lahir bukanlah dari ruang hampa udara. Gerakan mahasiswa Indonesia lahir sebagai respon atas dinamika sosial, politik dan ekonomi yang terjadi dimana mereka hadir.

Memahami gerakan mahasiswa tidak bisa dipisahkan dengan realitas sosial. Realitas sosial inilah hemat saya yang menjadi daya dorongan untuk melakukan perubahan. Realitas sosial memiliki dua sisi, dia bisa baik dan bisa timpang alias tidak adil. Kenapa harus dilakukan perubahan? Pertanyaan ini sangat relevan dengan semangat dan gelora kemahasiswaan sebagai anak muda. Sebab medan wacana gerakan kemahasiswaan haruslah bertaut dengan wacana perubahan sosial dan dalam kontek realitas sosial inilah gerakan mahasiswa akan diposisikan.

Rekomendasi
. Rekomendasi Pergerakan Mahasiswa
1. Membangun pergerakan kultural di setiap kampus.
2. Meningkatkan kesadaran kritis mahasiswa.
3. Penguatan media kampus sebagai media gerak.
4. Tolak segala bentuk komersialisasi pendidikan.