Sabtu, 09 April 2011
MENGINGAAT SEKILAS TRAGEDI 27 MARET KENDARI BERDARAH (MAKAR)
Disini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Negeri kami subur tuhan….
Salam pergerakan….
Sejarah mencatat betapa ekstremnya peran-peran mahasiswa pada 3 tahun yang silam, dengan tragedy MAKAR(27 Maret Kendari Berdarah) pada tahun 2008,mahasiswa melakukan aksi demonstrasi menolak keras penggusuran pedagang kaki lima(PKL) yang dapat merugikan dan menghilangkan mata pencaharian masyarakat setempat, Di Kendari SULTRA kemarin ( 27/03/2008 ) memang, sahabat-sahabat se-perjuangan turun ke jalan bersama PKL meneriakkan perlawanan.kawan-kawan yang tergabung dalam gerakan meneriakkan stabilisasi ekonomi. Memang tidak semua kawan-kawan tertidur, tapi kebanyakan masih tertidur!
kerja keras dan semangat juang yang begitu tinggi dijiwa mahasiswa dalam bentuk perlawanan sehingga menimbulkan terjadinya pertumpahan darah demi membela atas nama kepentingan dan kemaslahatan rakyat, gerakan kaki serentak menduduki kantor WALIKOTA kendari untuk mempertanyakan kepada pihak birokrat pemerintahan yang kenyatanya tidak PRO RAKYAT dan cuman hanya semata-mata memikirkan kepentingan politiknya tanpa memikirkan penderitaan rakyat SULTRA,justru perusahaan besar semakin besar, namun usaha-usaha kecil dan kaum miskin semakin miskin.
gerakan mahasiswa menjadi cikal gelombang gerakan social melawan tirani yang menindas raktat untuk menuntut apa yang sudah menjadi hak masyarakat tanpa di ganggu gugat oleh pemerintahan.
Kita ketahui sekarang-sekarang ini bahwa Penggusuran-penggusuran PKL menjadi kegiatan rutin, atas nama tata kota dan ketertiban mereka menghancurkan saudara kita lainnya.. tidak cukupkah ini menjadikan kita berani bangkit untuk meneriakkan suara mereka yang selalu termarginalkan? mereka yang selalu tertindas?
Memang tidak semua dari kita merasakan apa yang mereka rasakan.
Tapi coba kita cermati. Bisakah kita lari dari kenyataan dan tidak merasakan kegelisahan ketika melihat banyak orang bingung cari makan? melihat antrean minyak sampai ratusan meter? sekian banyak anak negeri ini hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan, serba kekurangan dan terhimpit banyak kesulitan. Fakta bahwa praksis korupsi merupakan hal biasa diatas kemiskinan dan kemelaratan mayoritas warga bangsa, seakan budaya yang harus dilestarikan demi kemakmuran segelintir orang dan bahkan tanpa sangsi? Bisakah kita tidak merasa gelisah ketika menghadapi melambungnya biaya pendidikan yang seharusnya menjadi hak semua warga di negeri yang kaya raya ini? Tidak gelisahkah kita melihat pemerintah tidak berdaya menghadapi pemodal? sedangkan rakyatnya sendiri dikesampingkan bagai sapi perahan yang telah habis diperah susunya? [tengok lapindo, Freeport]. Sekian miliar dollar harus dibayarkan untuk cicilan hutang luar negeri? Bayangkan jika uang sebanyak itu dimanfaatkan untuk memfasilitasi pendidikan kita, seberapa berkembangnya pendidikan bangsa ini sehingga akan melahirkan generasi baru penuh semangat dan optimisme, bukan generasi yang selalu dibumbuhi rasa pesimis akibat budaya dan perilaku bangsa! Bagaimana mungkin kita tidak gelisah ketika mendengar jeritan sedih dan teriakan amarah tanpa daya dari orang-orang yang tergusur hidupnya tanpa bisa melawan? Banyak warga kita yang diperlakukan semena-mena di negeri orang. Bagaimana kita tidak gelisah melihat semua itu? ataukah memang sengaja kita menutup mata dari semua itu? padahal kita tahu itu semuanya ada di depan mata! dan perlu kawan-kawan ketahui bahwa semua kejadian fakta ini akan berakibat fatal juga terhadap kawasan ekonomi khusus (KEK) Pertambangan Nasional di SULTRA yang akan dijadikan permainan politik pemerintahan dengan melantarkan masyrakatnya.
“dapatkah dia sebagai cendekiawan modern berdiam diri pada saat orang-orang sebangsanya dibunuh dengan cara-cara modern ini? tetapi apa yang harus dibuatnya? mulailah dan kau akan mendapat jawaban, mendengung kembali suara maret beberpa tahun lalu.
Hari ini aku akan kembali”
Semoga mata kita terbuka dengan fenomena yang ada!
Silahkan pikir sendiri, siapakah yang harus bertanggung jawab dengan semua ini?
dan apakah kita masih layak untuk hidup tenang seakan melupakan kegelisahan-kegelisahan yang tak kunjung padam?
Kembalilah Mahasiswa Indonesia, tunjukkan pada rakyat Indonesia bahwa kita patut menjadi agen perubahan. Kita masih peduli dan memperjuangkan mereka!
Bangkit dan bersatulah Mahasiswa Indonesia!
Bukalah matamu! Bukalah Telingamu! Teriakkanlah Mulutmu!
Tunjukkan bahwa Mahasiswa pantas dikatakan sebagai Agent of Change!!
Bangunlah Mahasiswa, Majulah Bangsaku!!!!
SAATNYA MAHASISWA RAKYAT BERSATU…….
Salam pembebasan……
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar